"Kalau misalkan kamu balik ke kampus, kuliah gitu-gitu pasti kamu sibuk lagi? Ga kayak pas lagi liburan. Mulai lagi deh dari nol"
Begitulah kira-kira pernyataan saya pada pacar saya, karena benar kenyataan setiap kami berdua kuliah, kami sama-sama sibuk dan sulit rasanya untuk bertemu meski jarak antara kos-kosan dia dan rumah saya hanya berbeda 1 jam.
Pernyataan saya sebenarnya tak hanya bisa ditujukan kepada suatu hubungan, tetapi juga pada sesuatu atau apapun yang berjalan, dalam suatu progress.
Namun sebenarnya pernyataan saya adalah pernyataan yang salah, bagaimana mungkin suatu hal bisa dari nol jika kita pernah menjalaninya atau setidaknya pernah bersinggungan?
Manusia selalu punya memori, bahkan seperti yang sering kita dengar bahwa nantinya jika hubungan kita berakhir; dengan pacar, teman, keluarga, atau siapapun kita tidak lagi mulai dari nol, meskipun kelihatannya hubungan tersebut sudah berakhir, tetapi kita selalu memiliki angka satu terhadap hubungan kita dengan orang tersebut maupun pandangan kita terhadap orang tersebut, angka satu itu adalah memori.
Ada beberapa orang dihidup saya yang sudah lama lagi tak berbicara dengan saya, entah karena memang sudah tidak lama bertemu, tidak kecocokan atau memang bagaimanapun saya berusaha untuk kembali memiliki hubungan yang sama dengan orang tersebut pasti sudah tidak bisa karena saya sudah berbeda halaman dengan mereka, namun bagaimanapun saya tidak berbincang sama sekali dengan mereka ada kalanya pasti saya akan berkata;
"iya dulu kan gue sama si itu..."
Tidak akan ada lagi ada kata-kata;
"siapa dia? gue ga kenal"
Pernyataan saya pada saat itu salah, "mulai dari nol" lebih tepatnya tidak memiliki progress atau tidak memiliki kemajuan yang positif. Setiap orang hanya bisa berusaha untuk tidak kembali ke titik nol, yang pada nyatanya harusnya mereka takut pada titik satu, dimana satu angka didepan nol namun tidak memiliki kemajuan yang signifikan.
Lalu saya sadar akan adanya angka satu tersebut dan saya merasa mungkin untuk saat ini yang saya lakukan adalah melakukan hal sebaik mungkin, bagaimanapun hal tersebut karena jika pada nantinya saya bertemu dengan titik satu setidaknya saya tidak menyesali suatu perbuatan maupun hal yang belum saya usahakan.
teman saya tadi siang menyatakan hal ini;
"gue masih inget banget wawancara azka buat psaf, cita-cita keren banget, mau jadi novelist, ga mainstream. Lo masih bercita-cita itu kan?"
Setelah saya mendengar hal ini saya lalu tersentak, saya masih bercita-cita hal itu, tapi jika saya bercita-cita tanpa melakukan tindakan apapun lalu untuk apa saya berbangga ria ingin bercita-cita menjadi novelist?
Saya tidak ingin mulai dari angka satu, dimana saya berharap berusaha lebih baik dalam meraih cita-cita saya, saya ingin berada pada angka 200 dimana saya bisa berkata,
" gue udah jadi novelist"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar